ASAL-USUL SUNGAI KRUENG MEUH ACEH





Mau tau cerita rakyat Asal-Usul Sungai Krueng Meuh Aceh???? Yuc Simak Ceritanya...!!!

Cerita ini dikutip dari cerita rakyat dan dari sumber-sumber orang tua atau masyarakat terdahulu. 

Sahabat semuanya, sebelum kita masuk dalam ceritanya, kita mengenal dulu makna dari judulnya. 


Kata Krueng berasal dari bahasa Aceh yang berarti "sungai", sedangkan Meuh itu sendiri juga berasal dari bahasa Aceh yang berarti "emas". jadi sahabat sekalian, Krueng Meuh berarti sungai emas. 
Nahh... sekarang sahabat semuanya sudah tau kan apa itu Krueng Meuh???. Kalau begitu yuk simak ceritanya...

Desa Tuba Lalat Kecamatan Peusangan Kabupaten Aceh Utara yang sekarang dikenal dengan  Desa Pante Karya Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen yang merupakan salah satu objek wisata alam yang ada di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh. Air di sungai tersebut sangat jernih dan sejuk. Daerah ini sering dipadati oleh wisatawan lokal yang berkunjung ketika akhir pekan dan waktu libur. Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh dari pusat kota, juga wahana pemandian yang sejuk dan suasananya damai yang semuanya didapat secara gratis. Para pengunjung hanya mengeluarkan biaya untuk bahan bakar kendaraan dan perlengkapan bekal saat berkunjung di daerah tersebut. 

Bermula dari kisah tiga orang warga Desa Tuba Lalat kala itu berniat mencari rotan ke hutan untuk mereka jual sebagai profesi mereka yang tinggal di kaki gunung Geureudong untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari bersama keluarga. Sebelumnya ketika malam mereka sering berkumpul dan minum kopi bersama-sama sambil membahas kemana langkah selanjutnya untuk mereka datangi untuk mencari rotan. Perbincangan mereka membuahkan hasil yaitu langkah yang akan mereka datangi untuk mencari rotan di daerah hutan di daerah kareung mirah. Malam pun semakin larut, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Keesokan harinya mereka berkumpul kembali di tempat biasa, menyiapkan bekal dan alat seadanya dan mereka berangkat. Sudah agak lama mereka berjalan menelusuri hutan dan matahari pun sudah mulai tinggi. Perjalanan untuk menuju ketempat tujuan mereka masih terlalu jauh. Tibalah mereka di tepi sungai yang merupakan jalan alternatif untuk menuju ketempat tujuan mereka. 

Ketika sedang berjalan menyeberangi sungai, salah satu dari mereka yang paling belakang berhenti dan matanya tersorot ke suatu batu yang warnanya sangat beda dengan batu yang ada di sekitarnya, batu tersebut berwarna kuning keemasan yang berkilau dengan terpaan pantulan sinar matahari didalam air. Sedangkan yang lainnya sedang melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan teman dibelakangnya. Lalu diambillah batu tersebut dan ternyata memang benar-benar emas. Emas tersebut cukup besar, kira-kira berdiameter 25 cm dan panjang sekitar 30 cm, atau sebesar nangka muda yang pas untuk digulai rendang. 

Tanpa buang-buang waktu, diambillah karung yang dibawanya, kemudian dimasukkanlah emas tersebut dan terus berjalan menyusul temannya. Setelah beberapa menit menyeberang sungai, tibalah mereka ditepi sungai. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dibawah pohon ditepi sungai. Kemudian salah satu dari mereka bertanya kepada teman yang mendapatkan emas tadi, kenapa kamu tadi berhenti? Lalu ia menjawab "tidak apa-apa" sambil menarik karung yang berisi emas itu ke belakangnya supaya tidak diketahui temannya yang lain. 

Setelah beristirahat beberapa menit, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk menuju ke tempat tujuan mereka.

Tiba-tiba teman mereka yang menemukan emas tadi berkata "saya tidak bisa melanjutkan perjalanan, saya kurang sehat, sepertinya saya mau sakit". 

Salah satunya lagi bertanya "Terus bagaimana?".
Ia menjawab "Kalian teruskan saja perjalanan, dan saya akan pulang".
Teman satunya lagi menjawab "Ya sudah kalau begitu, hati-hati saja di jalan, mudah-mudahan kamu cepat sembuh".

Ketika mereka bertiga bangun, salah satu dari mereka bertanya "Itu yang didalam karung apa? Kok ada isinya? sepertinya berat sekali". Dan penemu emas itu mejawab dengan sigap "Ah... cuma batu mau saya bawa pulang kerumah. Ya sudah... saya mau pamit pulang".

Disitu mereka berpisah, dua diantara mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari rotan dan penemu emas pulang ke rumah sambil membawa emas. Ia berjalan menerusuri sungai sabil tersenyum, dalam batinnya ia sudah berhasil menipu temannya dan ia akan kaya raya dengan emasnya. sesampainya di tepi sungai menuju jalan pulang, ia penasaran dengan emas tersebut, lalu sambil riang gembira dibukalah karung tersebut dengan maksud untuk melihat kembali emas yang ada didalam karung. Saat karung dibuka betapa terkejutnya, ternyata yang ada didalam karung hanyalah batu sungai biasa dan bukan emas yang berkilau lagi. Ia terduduk lesu sambil menatap batu tersebut. setelah beberapa saat ia bangun dari duduknya, dengan perasaan kesal yang amat sangat, diambilnya batu tersebut lalu dilemparkan ke sungai yang airnya dalam. Ketika batu jatuh ke air, seketika itu juga batu tersebut berubah kembali menjadi emas dan tenggelam ke dasar sungai. 

Ia sadar dan menyesali perbuatannya. Allah swt telah memberikan rezeki berupa emas untuk mereka bertiga, akan tetapi ia serakah dan ingin memiliki untuk sendiri. Namun Allah berkehendak lain, emas tersebut tidak menjadi miliknya lagi. 

Setelah peristiwa itu, tempat itu diberi nama Krueng Meuh yang berarti sungai emas, sampai saat ini masih dikenal dan diabadikan sebagai nama salah satu dusun di desa Pante Karya, dan juga diabadikan sebagai nama salah satu perusahaan kontraktor yang ada di Kabupaten Bireuen.

Sahabat semuanya, dari cerita itu banyak sekali kandungan hikmah yang bisa kita petik dan kita manfaatkan. Semoga cerita ini bermanfaat untuk sahabat semuanya.

Wassalam...



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "ASAL-USUL SUNGAI KRUENG MEUH ACEH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel